Bougenville, Anggrek Bulan, dan Persa「Baccarat game」habatan PK Ojong

  • 时间:
  • 浏览:0

HBaccaBaccarat gamerat gameArian Keng Baccarat gamepo diBaccarat gameberangus pemerintah tahun 1Baccarat game958. Star Weekly mengalami nasib serupa tahun 1961. Kedua terbitan itu tidak disukai pemerintah karena sikap kritisnya.

Mungkin berlebihan. Tetapi, gambaran itu yang muncul segera di benak saya begitu menatap dua patung perintis yang berlatar belakang guru.

Menjumpai dua patung yang bersisian ini, saya lantas ingat kuliah-kuliah filsafat dan lukisan "The School of Athens" karya Raphael (1509-1511).

Edisi perdana dicetak 10.000 eksemplar dengan harga jual per eksemplar Rp 60 untuk Jakarta dan Rp 65 di luar Jakarta. Nama dan logo Intisari sama persis dengan rubrik halaman pertama yang diasuh Ojong di Star Weekly yang ditutup.

Kesukaan saya pada filsafat memungkinkan munculnya gambaran itu. Buktinya, mereka yang tidak menyukai filsafat tidak menangkap gambaran serupa. Itu hiburan untuk pikiran saya yang melanglang buana hanya karena melihat patung saja.

Pertama, Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Kepala Pemerintahan yang mengonsolidasikan kekuatan dan kekuasaan politiknya melalui pengembangan demokrasi terpimpin.

Seda menginginkan adanya koran Partai Katolik karena permintaan Menteri/Panglima TNI AD Letjen Ahmad Yani. Alasannya, hampir semua partai kala itu memiliki corong partai.

Sejumlah penulis di edisi perdana antara lain Nugroho Notosusanto (kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Orde Baru), Soe Hok Djin yang kemudian berganti nama menjadi Arief Budiman, Soe Hok Gie adik Soe Hok Djin yang dikenang sebagai aktivis mahasiswa 1966, dan Kapten Ben Mboi (kelak menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Pembicaraan itu berlanjut dengan mendirikan majalah Intisari pada tahun 1963. Misi majalah itu adalah mendobrak kekangan politik isolasi yang dilakukan pemerintah.

Kedua, ABRI, yang berusaha meredam kekuatan politik PKI melalui kerja sama dengan organisasi-organiasi masyarakat dan politik non atau anti-komunis.

Awal tahun 1960-an situasi, politik kala itu terasa begitu mengekang. Partai Komunis berpengaruh besar dalam pemerintahan.

Mereka selanjutnya kerap bertemu dalam kegiatan sosial, politik, dan budaya. Pertemuan-pertemuan keduanya kemudian terjadi rutin begitu saja.

Soal perbedaan yang saling melengkapi menjadi warna persahabatan dan perjalanan PK Ojong dan Jakob Oetama serta Kompas Gramedia yang dirintis keduanya.

Perlu juga dipahami konstelasi politik saat itu. Ada tiga kekuatan politik besar.

terbit pertama pada 17 Agustus 1963 dengan ukuran 14 x 17,5 sentimeter, hitam putih tanpa kulit muka, tebal 128 halaman.

Saya konfirmasi gambaran yang muncul di benak saya ke salah satu anggota keluarga PK Ojong. Dia kaget, tak menduga, dan kemudian tertawa mendengar perbandingan itu.

Mereka merasakan, situasi kala itu membutuhkan sebuah media yang memuat artikel-artikel human story yang membuka mata dan telinga masyarakat.

Saat tengah asyik-asyiknya menggulati Intisari, Menteri Perkebunan Frans Seda dari Partai Katolik meminta keduanya untuk mendirikan surat kabar Partai Katolik.

Generasi pertama Intisari, dari kiri ke kanan: Jakob Oetama, PK Ojong, Adi Subrata, dan Irawati

Suatu hari, sambil menonton sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa Tengah, dilanjutkan dengan makan ayam goreng Mbok Berek, PK Ojong mengajak Jakob mendirikan majalah baru yang tujuannya menerobos kekangan informasi yang saat itu didominasi pemerintah di bawah kendali komunis.

Perjumpaan Jakob dengan PK Ojong terjadi tahun 1958. Saat itu, PK Ojong memimpin harian Keng Po dan mingguan Star Weekly, sedangkan Jakob di Penabur.